Kehidupan di lingkungan dayah atau pesantren di Aceh selalu kental dengan nuansa spiritualitas yang mendalam, terutama saat memasuki bulan suci Ramadan. Di Dayah Syaikhuna, salah satu rutinitas yang tidak pernah ditinggalkan dan menjadi ruh bagi para santri adalah pelaksanaan tradisi Ratib & Wirid. Kegiatan ini merupakan kumpulan doa, dzikir, dan selawat yang disusun oleh para ulama terdahulu untuk dibaca secara berjamaah. Bukan sekadar rutinitas lisan, tradisi ini adalah sebuah manifestasi dari penghambaan diri yang total, di mana setiap santri diajak untuk membersihkan batin mereka dari hiruk pikuk urusan duniawi sebelum memasuki waktu-waktu yang paling mustajab untuk berdoa.
Pelaksanaan ritual ini dilakukan dengan sangat khidmat di masjid utama dayah menjelang matahari terbenam. Bagi santri, melakukan praktik terbaik dalam berdzikir adalah dengan menyatukan konsentrasi pikiran dan ketulusan hati. Mereka duduk bersimpuh dalam barisan yang rapi, melantunkan kalimat-kalimat thoyyibah dengan irama yang tenang namun bertenaga. Suasana religius yang tercipta sangatlah kuat; ada getaran frekuensi yang seolah menyatukan jiwa-jiwa yang sedang menahan lapar dan dahaga demi menjalankan perintah Sang Khalik. Kegiatan ini dipercaya sebagai sarana untuk mempertajam kecerdasan spiritual, sehingga ilmu-ilmu yang dipelajari selama di kelas dapat meresap dan menjadi cahaya dalam kehidupan mereka.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah sebagai sarana untuk menjemput berkah berbuka puasa. Dalam tradisi Islam, waktu sesaat sebelum berbuka adalah salah satu waktu di mana doa-doa hamba tidak akan tertolak. Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu dengan sekadar menunggu atau melakukan aktivitas yang kurang bermanfaat, santri di Dayah Syaikhuna memilih untuk memperbanyak wirid. Mereka percaya bahwa dengan mengawali waktu berbuka melalui dzikir, makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh akan membawa keberkahan dan kekuatan untuk melanjutkan ibadah di malam hari. Inilah yang membuat stamina santri tetap terjaga meskipun jadwal kegiatan di dayah sangat padat selama bulan Ramadan.
Selain dimensi vertikal kepada Tuhan, tradisi ini juga memiliki fungsi sosial-pedagogis yang sangat kuat. Ratib yang dibaca secara bersama-sama melatih para santri untuk memiliki rasa persatuan yang tinggi. Tidak ada suara yang saling mendahului, semua mengikuti ritme pemimpin wirid (khalifah). Hal ini secara tidak langsung mengajarkan nilai kedisiplinan dan ketaatan kepada pemimpin. Di sisi lain, santri senior memiliki tanggung jawab untuk membimbing santri junior dalam melafalkan kalimat-kalimat wirid dengan makhraj yang benar. Proses transfer pengetahuan ini terjadi secara organik di dalam masjid, menciptakan ikatan persaudaraan yang sangat erat antar generasi santri.
