Penguatan metodologis dan kajian komparatif metodologi hukum Islam menjadi landasan utama bagi para santri dalam membedah berbagai persoalan kontemporer. Forum musyawarah keilmuan yang berakar pada literatur klasik terus dirawat sebagai sarana pembentukan nalar kritis santri. Penerapan prinsip hukum Islam diuji melalui dialektika pemikiran guna memberikan jawaban atas fenomena sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berkembang.
Forum Bahtsul Masail mempertemukan para mahasantri dan dewan guru untuk membahas rujukan kitab-kitab turats secara mendalam. Rujukan penetapan hukum Islam dicari melalui penelusuran kaidah fiqih, ushul fiqih, serta pendapat para ulama terdahulu yang relevan. Proses argumentasi berjalan secara terbuka dengan menjunjung tinggi etika perbedaan pendapat akademis di lingkungan lembaga pendidikan Islam.
Setiap perdebatan diawali dengan pemetaan masalah sosial terkini agar landasan pengambilan keputusan hukum tepat sasaran. Pembahasan hukum Islam ini mengharuskan peserta forum untuk membaca teks-teks klasik dengan pendekatan kontekstual tanpa menghilangkan substansi nilai syariat. Ketelitian verifikasi dalil menjadi kunci utama dalam merumuskan kesimpulan hukum yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Integrasi ilmu fiqih klasik dengan wawasan kemasyarakatan modern menjadikan fatwa atau rekomendasi yang dihasilkan bersifat solutif. Pemahaman hukum Islam yang komprehensif melatih para santri untuk tidak tergesa-gesa dalam menghukumi suatu perkara yang kompleks di tengah masyarakat. Pembiasaan riset literatur yang kuat membentuk ketajaman analisis hukum para peserta Bahtsul Masail.
Dokumentasi hasil musyawarah diterbitkan secara berkala sebagai bentuk kontribusi pemikiran lembaga terhadap literatur keislaman. Risalatul masail tersebut menjadi rujukan ilmiah bagi para dai, akademisi, serta masyarakat umum yang membutuhkan kepastian hukum. Pembiasaan ini menegaskan peran dayah sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam yang adaptif dan dinamis.
Konsistensi dalam menyelenggarakan forum diskusi keilmuan ini menjaga tradisi intelektual Islam tetap hidup dan bercahaya. Santri dibina menjadi pribadi yang bijaksana dalam merespons perubahan zaman dengan pijakan ilmu yang kokoh. Dialektika keilmuan yang sehat ini menjadi bukti nyata kontribusi dayah bagi peradaban masyarakat modern.
