Di antara berbagai teknik pengajaran yang diwariskan dalam tradisi pondok pesantren, metode Sorogan memegang peranan krusial dalam menjamin kualitas pemahaman santri. Sorogan adalah Metode Personal yang khas, di mana santri secara perorangan maju ke hadapan guru (Kiai) atau Ustadz untuk membaca, menghafal, dan menjelaskan materi pelajaran dari kitab yang dikajinya. Metode Personal ini berfokus pada kualitas individual, memungkinkan guru untuk memantau, mengoreksi, dan mengukur tingkat pemahaman setiap santri secara mendalam. Keunggulan Metode Personal ini terletak pada interaksi langsung dan intensif yang seringkali hilang dalam sistem pembelajaran klasikal massal.
Secara harfiah, kata sorogan berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘menyodorkan’ atau ‘menyerahkan’. Dalam konteks pembelajaran, santri menyodorkan kitab yang sudah mereka pelajari untuk diperiksa oleh guru. Proses ini melibatkan dialog dua arah: santri membaca, menerjemahkan, atau meng-i’rab (menganalisis tata bahasa) teks, sementara guru akan menyimak, mengoreksi kesalahan harakat, dan menguji pemahaman konsepnya. Jadwal Sorogan Fiktif di Pesantren Salaf Riyadlus Sholihin menetapkan bahwa sesi ini berlangsung setiap hari setelah salat Magrib dan Subuh, dengan alokasi waktu sekitar 5 hingga 10 menit per santri, tergantung tingkat kesulitan materi.
Keunikan Sorogan sebagai Metode Personal terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan kecepatan belajar individu. Bagi santri dengan kecerdasan tinggi, Sorogan memungkinkan mereka untuk maju ke materi berikutnya tanpa harus menunggu teman sekelasnya. Sebaliknya, bagi santri yang kesulitan, guru dapat memberikan perhatian ekstra dan mengulang penjelasan hingga konsep Nahwu, Shorof, atau Fikih benar-benar tertanam. Laporan Evaluasi Kecepatan Belajar Fiktif dari Lembaga Kajian Pesantren Nusantara (LKPN) pada Rabu, 12 Februari 2025, menunjukkan bahwa santri yang konsisten dalam Sorogan mampu menyelesaikan pengkajian kitab dasar dua kali lebih cepat daripada rata-rata santri yang hanya mengandalkan Bandongan.
Dengan demikian, Sorogan tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme transfer ilmu, tetapi juga sebagai sistem evaluasi dan pembinaan mental. Santri dilatih untuk berani menghadapi guru secara langsung, melatih tanggung jawab terhadap materi yang harus mereka kuasai, dan membangun ikatan batin (rabithah) yang kuat antara murid dan guru, yang merupakan nilai inti dalam tradisi pesantren.
