Aksesibilitas terhadap layanan kesehatan spesialis sering kali menjadi kendala utama bagi institusi pendidikan berbasis asrama yang terletak jauh dari pusat perkotaan. Menyadari bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor krusial yang menunjang konsentrasi belajar para santri, lembaga Dayah Syaikhuna meluncurkan sebuah terobosan infrastruktur kesehatan yang inovatif. Kehadiran unit mobil gigi keliling menjadi solusi praktis untuk mengatasi hambatan geografis dan waktu yang selama ini dialami oleh para penghuni asrama. Dengan membawa peralatan medis canggih langsung ke halaman sekolah, program ini memastikan bahwa setiap santri mendapatkan perawatan dental yang setara dengan klinik-klinik modern di kota besar tanpa harus meninggalkan lingkungan belajar mereka.
Inisiatif yang dijalankan oleh Dayah Syaikhuna ini mengadopsi konsep transformasi pelayanan publik melalui sistem layanan medis yang bersifat proaktif. Alih-alih menunggu pasien datang ke rumah sakit, tim dokter gigi dan perawat bergerak menuju titik kumpul massa untuk melakukan pemeriksaan rutin. Di dalam unit kendaraan yang telah dimodifikasi secara khusus tersebut, tersedia kursi gigi elektrik, peralatan sterilisasi berstandar tinggi, hingga perangkat rontgen gigi portabel. Fasilitas ini memungkinkan dilakukannya berbagai tindakan medis, mulai dari pembersihan karang gigi (scaling), penambalan gigi berlubang, hingga pencabutan gigi susu yang sudah waktunya tanggal, semuanya dilakukan dengan standar prosedur medis yang ketat dan higienis.
Strategi utama dari program ini adalah efektivitas sistem jemput bola yang menyasar ribuan santri dalam waktu yang relatif singkat. Di lingkungan dayah yang memiliki jadwal kegiatan sangat padat—mulai dari salat subuh berjemaah hingga kajian kitab kuning di malam hari—mengatur waktu untuk berobat ke luar area sering kali sulit dilakukan. Dengan adanya mobil gigi ini, pemeriksaan dapat dilakukan secara bergiliran di sela-sela waktu istirahat santri. Hal ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga mengurangi beban biaya transportasi bagi orang tua atau pengelola lembaga. Selain itu, kehadiran unit medis di lingkungan sekolah membantu menghilangkan kecemasan atau “fobia dokter gigi” pada anak-anak, karena prosedur dilakukan di lingkungan yang sudah akrab bagi mereka.
Selain tindakan kuratif, mobil gigi keliling ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi kesehatan preventif. Para tenaga medis memberikan penyuluhan mengenai teknik menyikat gigi yang benar serta pentingnya menjaga asupan nutrisi untuk memperkuat email gigi. Santri diajarkan bahwa infeksi pada gigi yang tidak tertangani dapat memicu masalah kesehatan yang lebih luas, seperti gangguan pencernaan atau bahkan risiko infeksi jantung di masa depan. Pendidikan kesehatan yang diberikan secara langsung di lokasi kejadian (on-site) cenderung lebih mudah diserap dan dipraktikkan oleh santri dalam kehidupan sehari-hari di asrama, menciptakan budaya sadar kesehatan yang kolektif dan berkelanjutan.
