Di Ponpes Dayah Syaikhuna, mengimani Qada dan Qadar adalah rukun iman keenam, fondasi penting akidah. Meskipun sering dianggap sama, kedua istilah ini memiliki perbedaan mendasar yang krusial dipahami. Secara sederhana, Qada adalah ketetapan Allah yang bersifat umum sejak zaman azali.
Qada dapat diibaratkan sebagai blueprint atau rencana agung yang telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfuzh sebelum segala sesuatu diciptakan. Ketetapan ini bersifat mutlak (Takdir Mubram) dan tak dapat diubah. Contohnya meliputi kematian, kelahiran, dan hari kiamat.
Sementara itu, Qadar adalah perwujudan atau realisasi dari ketetapan (Qada) tersebut di dunia nyata, dengan batasan tertentu. Qadar sering dikaitkan dengan Takdir Mu’allaq, yaitu ketetapan yang masih dapat diubah oleh manusia melalui ikhtiar dan doa yang sungguh-sungguh.
Perbedaan utama ini menempatkan manusia pada posisi strategis antara kepasrahan dan usaha. Mengimani Qada dan Qadar tidak berarti pasif. Ponpes Dayah Syaikhuna mengajarkan bahwa Qadar adalah ruang gerak bagi ikhtiar, menjadikannya kunci sukses dunia dan akhirat.
Contoh konkretnya adalah kecerdasan. Qada-nya mungkin menetapkan seseorang terlahir biasa-biasa saja. Namun, Qadar-nya akan terwujud melalui usaha gigih dan doa. Siswa yang rajin belajar akan menjadi pintar; ini adalah realisasi Qadar yang positif berkat ikhtiarnya.
Memahami Qada dan Qadar secara benar akan melahirkan ketenangan batin. Jika mendapatkan nikmat, kita bersyukur karena itu Qada dan Qadar yang baik. Jika ditimpa musibah, kita sabar dan yakin bahwa itu adalah ketetapan-Nya, bukan kegagalan usaha semata.
Pengajaran di Ponpes Dayah Syaikhuna selalu menekankan: berikhtiarlah sekuat tenaga seolah-olah tiada Qada dan Qadar yang menentukan; dan tawakkallah sepenuhnya seolah-olah ikhtiar tidak berguna. Keseimbangan inilah yang menciptakan pribadi yang optimis dan teguh.
Dengan memahami misteri Qada dan Qadar, umat Islam terhindar dari dua jurang: fatalisme (berpasrah tanpa usaha) dan kesombongan (merasa berhasil karena usaha semata). Keduanya adalah kehendak Allah, namun memerlukan partisipasi aktif manusia.
