Dunia pesantren dikenal dengan tradisi intelektual yang sangat dinamis, terutama dalam merespons berbagai persoalan hukum Islam yang muncul di tengah masyarakat. Salah satu instrumen paling penting dalam tradisi ini adalah sebuah forum diskusi yang mendalam dan tajam. Di lembaga pendidikan Dayah Syaikhuna, penerapan Metode Bahsul Masail bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan laboratorium intelektual untuk menguji sejauh mana penguasaan santri terhadap kitab kuning dan realitas sosial. Melalui forum ini, para santri diajak untuk tidak hanya menjadi penerima informasi yang pasif, melainkan menjadi analis yang mampu membedah masalah dari berbagai sudut pandang hukum dan logika.
Secara teknis, proses diskusi di Dayah Syaikhuna dimulai dengan pengajuan masalah atau asilah yang sedang hangat dibicarakan, baik itu masalah ekonomi syariah, medis, hingga problematika sosial kontemporer. Para santri kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk mencari jawaban di dalam referensi kitab-kitab klasik maupun kontemporer. Di sinilah letak keunikan cara mereka belajar; mereka harus mampu melakukan sinkronisasi antara teks-teks abad pertengahan dengan konteks dunia modern. Proses pencarian referensi (ibarat) ini melatih ketelitian dan kesabaran para santri dalam menggali harta karun ilmu pengetahuan yang sangat luas.
Salah satu tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk melatih berpikir kritis secara sistematis. Dalam Bahsul Masail, setiap argumen yang diajukan harus didasarkan pada dalil yang kuat dan alur logika yang sehat. Jika seorang santri mengajukan sebuah pendapat hukum, santri lain berhak menyanggah atau memberikan pandangan pembanding (muqabalah). Di lingkungan Dayah Syaikhuna, perdebatan dilakukan secara ilmiah tanpa melibatkan emosi pribadi. Hal ini membentuk mentalitas santri yang terbuka terhadap perbedaan pendapat namun tetap teguh pada prinsip-prinsip metodologi hukum Islam yang benar.
Penerapan metode ini di Dayah Syaikhuna juga berdampak pada kepercayaan diri santri saat terjun ke masyarakat kelak. Mereka terbiasa berbicara di depan publik, menyusun draf keputusan hukum, dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit. Kemampuan artikulasi ini sangat penting karena seorang tokoh agama tidak hanya dituntut tahu hukum, tetapi juga harus mampu menjelaskan alasan di balik hukum tersebut kepada masyarakat awam. Dengan latihan yang konsisten, para santri tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah terpengaruh oleh opini yang tidak berdasar atau berita bohong (hoaks) yang sering beredar di era digital.
