Dunia pesantren sering kali dicitrakan sebagai lingkungan yang kaku dan tertutup, namun di Pesantren Syaikhuna, citra tersebut luruh melalui sebuah tradisi unik yang menggabungkan antara intelektualitas dan kearifan lokal. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Kopi & Kitab, sebuah kegiatan di mana para santri senior berkumpul di kedai kopi bergaya Aceh yang terletak di sekitar lingkungan pesantren untuk membedah teks-teks klasik. Fenomena ini menciptakan sebuah Budaya Diskusi yang cair namun tetap berbobot, di mana aroma kopi yang khas berpadu dengan perdebatan ilmiah mengenai hukum fikih, tata bahasa Arab, hingga filsafat Islam.
Pilihan tempat di kedai kopi bukanlah tanpa alasan. Bagi santri Syaikhuna, kedai kopi adalah ruang publik yang demokratis. Di sana, sekat-sekat formal antara guru dan murid menjadi lebih tipis, sehingga komunikasi dapat terjalin dengan lebih terbuka. Dalam Budaya Diskusi ini, seorang santri tidak hanya dituntut untuk hafal isi kitab, tetapi juga harus mampu mempertahankan argumennya di depan rekan-rekan sejawatnya sambil menikmati secangkir kopi saring. Suasana yang santai namun fokus ini justru sering kali melahirkan pemikiran-pemikiran yang lebih tajam dan kontekstual dibandingkan saat mereka berada di dalam ruang kelas yang formal.
Proses diskusi biasanya dimulai setelah waktu isya. Para santri membawa kitab kuning masing-masing, kemudian salah satu dari mereka akan membacakan sebuah bab tertentu. Setelah pembacaan selesai, dimulailah sesi tanya jawab dan sanggahan yang dinamis. Budaya Diskusi seperti ini melatih santri untuk memiliki mental yang kuat dan kemampuan retorika yang baik. Mereka belajar bagaimana menghargai perbedaan pendapat tanpa harus merasa tersinggung, sebuah nilai yang sangat penting dalam menjaga ukhuwah islamiyah. Kopi dalam hal ini berfungsi sebagai stimulan yang menjaga saraf tetap terjaga dan pikiran tetap jernih selama berjam-jam membahas persoalan umat yang kompleks.
Selain aspek intelektual, tradisi ini juga memiliki dampak sosial yang luas. Kedai kopi menjadi tempat bertemunya para santri dengan masyarakat umum, termasuk para pemuda desa dan tokoh masyarakat. Dalam Budaya Diskusi yang inklusif ini, masyarakat sering kali ikut mendengarkan atau bahkan bertanya mengenai persoalan agama sehari-hari kepada para santri. Hal ini menjadikan kedai kopi sebagai mimbar dakwah yang tidak menggurui. Santri belajar untuk membumikan bahasa kitab yang tinggi ke dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh orang awam. Inilah bentuk nyata dari pengabdian intelektual pesantren kepada masyarakat sekitarnya.
