Pendidikan karakter yang paling efektif adalah melalui praktik Ketauladanan sebagai Ketentuan Wajib. Dalam konteks pesantren, ketauladanan ini mutlak harus diperankan oleh figur sentral. Hal ini memastikan bahwa ajaran tidak hanya berupa teori, tetapi terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Figur sentral tersebut adalah Peran Syaikhuna, atau kyai/pimpinan pondok. Syaikhuna bukan hanya pengajar, tetapi ayah spiritual dan panutan utama. Tindak-tanduk, perkataan, dan bahkan ekspresi beliau menjadi kurikulum yang tak tertulis bagi seluruh warga pesantren.
Peran Syaikhuna dalam Menurunkan Etika dan Adab Islami sangat krusial. Adab dan etika tidak cukup diajarkan melalui ceramah. Ia harus diinternalisasi melalui observasi dan imitasi langsung terhadap akhlak Syaikhuna dalam beribadah, berinteraksi, dan menghadapi masalah.
Transfer nilai Kepada Santri menjadi lebih mudah dan kuat dengan metode ini. Mereka melihat bagaimana ilmu diwujudkan dalam amal nyata. Ketaatan santri bukan hanya pada aturan, tetapi pada figur yang mereka hormati dan teladani.
Ketauladanan sebagai Ketentuan Wajib ini menciptakan lingkungan yang sarat integritas. Tidak ada kesenjangan antara apa yang diajarkan dan apa yang dipraktikkan. Ini menghilangkan keraguan dan memperkuat kepercayaan santri terhadap ajaran yang mereka terima.
Peran Syaikhuna meliputi keikhlasan dalam mengajar, kesabaran menghadapi masalah, dan kesahajaan hidup. Semua ini menjadi pelajaran berharga yang membentuk karakter kuat pada diri santri. Ini adalah warisan yang jauh lebih bernilai dari sekadar materi.
Proses Menurunkan Etika dan Adab Islami juga dilakukan melalui majelis-majelis khusus yang membahas syama’il (sifat-sifat) Rasulullah SAW dan salafus saleh. Namun, Syaikhuna lah yang memberikan sentuhan kontemporer dalam penerapannya.
Dengan menjadikan Ketauladanan sebagai Ketentuan Wajib, Peran Syaikhuna berhasil Menurunkan Etika dan Adab Islami yang mendalam Kepada Santri, membentuk pribadi-pribadi yang berakhlak mulia.
