Tradisi mudik atau pulang ke kampung halaman merupakan fenomena kultural dan spiritual terbesar di Indonesia yang melibatkan jutaan orang setiap tahunnya. Namun, di balik kebahagiaan silaturahmi, terdapat masalah lingkungan menahun berupa ledakan volume sampah, terutama plastik sekali pakai dari bungkus makanan dan minuman selama perjalanan. Menyongsong musim mudik tahun ini, Kampanye Syaikhuna hadir sebagai sebuah gerakan moral dari kalangan pesantren untuk memberikan solusi nyata bagi para musafir agar ibadah pulang kampung tidak dikotori oleh dosa ekologis.
Memasuki tahun 2026, kesadaran akan krisis iklim dan polusi plastik sudah bukan lagi sekadar wacana di ruang kelas, melainkan ancaman nyata yang harus dimitigasi oleh semua pihak, termasuk komunitas pesantren. Pesantren Syaikhuna menyadari bahwa jutaan santri dan wali santri yang melakukan pergerakan mudik memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Melalui gerakan ini, pesantren ingin membuktikan bahwa nilai-nilai Islam sangat relevan dalam membentuk gaya hidup berkelanjutan, di mana kenyamanan selama di perjalanan tidak harus dibayar dengan kerusakan lingkungan di sepanjang jalur mudik.
Inovasi utama dari gerakan ini adalah penyusunan sebuah Panduan Mudik yang komprehensif dan mudah diterapkan oleh masyarakat luas. Panduan ini tidak hanya berisi doa-doa perjalanan atau tips keamanan berkendara, tetapi juga langkah-langkah praktis untuk meminimalisir jejak karbon dan sampah. Pesantren mengajak para pemudik untuk kembali ke kearifan lokal, seperti membawa bekal dengan wadah guna ulang dan menggunakan botol minum (tumbler) sendiri. Dengan perencanaan yang matang, seorang pemudik dapat menghemat puluhan botol plastik dan bungkus makanan selama perjalanan panjang lintas provinsi.
Target utama dari kampanye ini adalah mewujudkan perjalanan yang Tanpa Sampah Plastik. Strategi yang digunakan dalam panduan ini mencakup tips “Pilah di Jalan”, di mana pemudik diedukasi untuk tidak mencampur sampah organik dan anorganik di tempat istirahat (rest area). Selain itu, Syaikhuna juga bekerja sama dengan simpul-simpul alumni pesantren di sepanjang jalur utama mudik untuk menyediakan “Posko Hijau” yang menyediakan dispenser air gratis bagi pemudik yang membawa botol sendiri. Ini adalah bentuk pelayanan publik berbasis komunitas yang sangat efektif untuk mengurangi pemakaian gelas plastik sekali pakai.
