Tradisi intelektual di lingkungan pesantren, khususnya di Aceh yang dikenal dengan sebutan Dayah, selalu berpusat pada pendalaman teks-teks klasik. Pondok Pesantren atau Dayah Syaikhuna terus konsisten menjaga marwah keilmuan ini melalui intensifikasi kajian turats. Kitab-kitab karangan ulama terdahulu bukan sekadar dibaca, melainkan dibedah secara kritis untuk menemukan relevansinya dengan problematika hukum kontemporer. Di tahun 2026, kajian ini semakin diperkuat sebagai fondasi utama bagi santri dalam menghadapi berbagai isu sosial, ekonomi, dan teknologi yang muncul di tengah masyarakat modern yang semakin kompleks.
Fokus utama dari kegiatan ilmiah tahun ini adalah persiapan bahtsul masail tingkat regional yang akan diselenggarakan di Dayah Syaikhuna. Bahtsul masail merupakan forum diskusi tingkat tinggi di mana para santri dan ustadz berkumpul untuk mencari solusi hukum Islam terhadap persoalan yang belum ada nash secara eksplisit dalam kitab klasik. Persiapan ini melibatkan penelitian mendalam terhadap berbagai literatur, mulai dari kitab fadhail hingga kitab-kitab hukum positif. Santri dilatih untuk melakukan takhrijul furu’ ‘alal ushul, yaitu mengaitkan masalah cabang dengan kaidah-kaidah dasar yang telah diletakkan oleh para imam mazhab.
Dalam lingkup Dayah Syaikhuna, setiap santri senior diwajibkan untuk menguasai metodologi istinbath hukum yang akurat. Mereka tidak diperkenankan memberikan jawaban hanya berdasarkan logika semata, melainkan harus didasarkan pada referensi yang kuat (ibarat) dari kitab-kitab mu’tabarah. Proses diskusi pra-bahtsul masail di dalam asrama seringkali berlangsung hingga larut malam, di mana para santri saling beradu argumen dengan tetap menjunjung tinggi etika berdiskusi atau adabul lits. Hal ini membuktikan bahwa semangat intelektual di dayah tetap menyala dan adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Acara berskala regional ini diprediksi akan menarik perhatian banyak pakar hukum Islam dari berbagai daerah. Oleh karena itu, persiapan yang dilakukan mencakup aspek substansi dan teknis organisasi. Santri diberikan pembekalan khusus mengenai cara menyusun makalah jawaban (jawaban masail) yang sistematis, menggunakan bahasa yang lugas, namun tetap sarat dengan kutipan referensi yang valid. Kemampuan menulis ilmiah ini menjadi salah satu target capaian dalam proker kali ini, agar pemikiran-pemikiran cemerlang dari rahim dayah dapat didokumentasikan dan dipublikasikan secara luas kepada umat melalui berbagai kanal media.
