Sesi latihan ketat di ponpes dayah syaikhuna difokuskan pada pemantapan tim Musabaqah Syarhil Qur’an agar mampu menyajikan kombinasi antara nada, tilawah, dan penceritaan yang selaras. Evaluasi mendalam dilakukan terhadap aspek retorika pembicara utama agar penyampaian pesan agama terdengar lugas, persuasif, serta menyentuh emosi pendengar. Kerjasama tim yang terdiri dari pensyarah, qari, dan saritilawah ditata sedemikian rupa demi terciptanya harmonisasi pertunjukan yang utuh.
Penampilan dalam Syarhil Qur’an menuntut pemahaman konteks ayat yang mendalam agar argumen yang disampaikan memiliki kedalaman isi ilmiah serta tekstual. Tim penilai memberikan koreksi pada diksi tulisan teks agar lebih kontekstual dengan isu-isu kontemporer yang sedang berkembang di masyarakat. Keselarasan antara kutipan ayat Al-Qur’an, hadits, dan penceritaan pesan menjadi fokus utama perbaikan naskah syarahan.
Aspek retorika dan artikulasi pensyarah mendapat perhatian khusus melalui latihan intonasi vokal, nada bicara, serta ekspresi mimik wajah yang tepat. Pembimbing menekankan pentingnya kontak mata dengan audiens serta penggunaan bahasa tubuh yang alami untuk memperkuat artikulasi pesan. Penyampaian pidato yang terstruktur dengan artikulasi jelas terbukti lebih efektif dalam menarik perhatian dewan juri dan penonton.
Peran qari dalam membacakan ayat suci harus memiliki kesesuaian irama dengan tema naskah yang sedang dibawakan oleh sang pensyarah utama. Penyesuaian lagu tilawah dengan kandungan isi ayat memperkuat atmosfer perenungan bagi siapa saja yang mendengarkan bait demi bait firman-Nya. Begitu pula penterjemah atau saritilawah harus mampu menyampaikan makna ayat dengan penjiwaan mendalam dan intonasi yang pas.
Simulasi perlombaan digelar secara berkala di hadapan ratusan santri guna melatih ketahanan mental dan daya fokus para anggota tim. Umpan balik langsung diberikan oleh dewan guru tepercaya mengenai aspek kerapian busana, kerapian posisi berdiri, hingga ketepatan durasi waktu penyampaian. Kritik konstruktif tersebut menjadi bahan pembenahan teknis agar penampilan tim mencapai tingkat kedewasaan yang sempurna.
Melalui evaluasi komprehensif ini, kesiapan delegasi santri dalam menghadapi ajang kompetisi Syarhil Qur meyakinkan dan terukur secara matang. Penguasaan isi ayat Al-Qur’an yang dipadukan dengan keterampilan retorika publik menghasilkan media dakwah yang sangat efektif dan berbobot. Santri siap tampil memberikan penjelas makna Al-Qur’an yang mencerahkan bagi khalayak luas.
