Aceh memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari deburan ombak Samudra Hindia. Sebagai wilayah yang berada di ujung utara Pulau Sumatera, masyarakatnya telah membangun hubungan emosional dan spiritual yang sangat dalam dengan perairan. Di Dayah Syaikhuna, sebuah lembaga pendidikan tradisional yang tetap kokoh menjaga kearifan lokal, muncul sebuah kajian menarik yang memadukan antara sains kelautan dan kearifan lokal, yang kini dikenal sebagai etno oseanografi. Kajian ini bukan sekadar mempelajari arus atau pasang surut secara teknis, melainkan membedah bagaimana masyarakat pesisir memahami fenomena alam sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.
Bagi para santri di pesisir Aceh, laut adalah guru besar yang mengajarkan tentang ketidakterbatasan dan ketundukan. Dalam perspektif teologi Islam, setiap riak gelombang adalah manifestasi dari zikir alam semesta. Di Dayah Syaikhuna, kurikulum tidak tertulis sering kali mencakup pengamatan terhadap pola bintang dan arah angin yang digunakan nelayan tradisional untuk melaut. Pemahaman ini disebut etno-oseanografi karena bersumber dari akumulasi pengetahuan turun-temurun yang diselaraskan dengan kaidah-kaidah agama. Laut bukan dipandang sebagai komoditas yang harus dikuras habis, melainkan amanah yang harus dijaga keseimbangannya agar keberkahan terus mengalir ke daratan.
Penerapan konsep ini terlihat jelas dalam tradisi “Panglima Laot”, sebuah sistem organisasi nelayan adat di Aceh yang memiliki akar kuat dalam hukum Islam. Di sini, pemahaman tentang ekosistem laut tidak hanya bersifat materiil. Terdapat aturan-aturan yang melarang penangkapan ikan pada hari-hari tertentu atau menggunakan alat yang merusak karang. Para ulama di dayah berperan sebagai penasihat moral yang memastikan bahwa setiap aktivitas ekonomi di perairan tetap bersandar pada etika ketuhanan. Mereka mengajarkan bahwa merusak laut berarti merusak tanda-tanda kebesaran Tuhan, sebuah dosa ekologis yang memiliki dampak sistemik bagi kehidupan manusia.
Secara ilmiah, pengetahuan lokal masyarakat Aceh tentang laut sering kali selaras dengan data oseanografi modern. Misalnya, kemampuan nelayan dalam membaca tanda-tanda sebelum terjadinya badai atau perubahan suhu air yang mempengaruhi migrasi ikan. Di Dayah Syaikhuna, pengetahuan empiris ini divalidasi dengan kajian kitab-kitab klasik yang membahas tentang penciptaan alam. Sinergi ini menciptakan sebuah pemahaman yang utuh bahwa sains dan iman tidak berdiri di ruang yang berbeda. Keduanya saling menguatkan untuk membangun karakter santri yang peduli pada pelestarian lingkungan bahari sebagai bentuk pengabdian kepada Khaliq.
