Kebutuhan logistik di masa pasca bencana sering kali terfokus pada bahan makanan mentah, namun sering kali melupakan sarana untuk mengolahnya. Melalui program Dayah Syaikhuna Peduli Kirim Bantuan Alat Masak untuk Pengungsi di Medan, lembaga pendidikan Islam ini mengambil inisiatif strategis untuk mengisi celah bantuan yang sering terlewatkan tersebut. Ketika banjir besar melanda pemukiman padat, banyak warga yang kehilangan seluruh perlengkapan rumah tangga mereka, termasuk peralatan dapur. Tanpa adanya sarana memasak yang memadai, bantuan bahan pangan mentah tidak akan bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh warga yang sedang berjuang di lokasi pengungsian darurat.
Langkah nyata yang diambil oleh pengurus lembaga adalah melakukan mobilisasi sumber daya untuk segera kirim bantuan berupa perangkat kebutuhan rumah tangga dasar. Tim relawan menyiapkan paket yang terdiri dari kompor gas portabel, tabung gas kecil, kuali, panci, serta peralatan makan seperti piring dan sendok. Bantuan Alat Masak ini dirancang agar warga dapat mandiri dalam mengolah makanan sesuai selera dan kebutuhan nutrisi keluarga mereka, terutama bagi keluarga yang memiliki balita atau lansia yang membutuhkan menu makanan khusus yang tidak selalu tersedia di dapur umum pusat.
Target utama dari pendistribusian peralatan ini adalah para pengungsi di Medan yang saat ini masih bertahan di kamp-kamp penampungan atau menumpang di rumah kerabat. Kehilangan alat masak berarti hilangnya kemandirian pangan sebuah keluarga. Dengan adanya dukungan perangkat memasak ini, para ibu di pengungsian dapat kembali menyiapkan asupan hangat bagi anak-anak mereka, yang sangat penting untuk menjaga suhu tubuh dan imunitas di tengah cuaca yang masih sering diguyur hujan. Dayah Syaikhuna memastikan bahwa setiap paket yang diberikan adalah barang baru dan berkualitas agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama hingga warga kembali ke rumah masing-masing.
Penyaluran bantuan ini dilakukan dengan koordinasi yang ketat bersama tokoh masyarakat setempat untuk memastikan efektivitas distribusi. Para santri senior dilibatkan dalam proses pengangkutan dan serah terima bantuan guna melatih kepedulian sosial mereka. Kehadiran para santri di lokasi bencana tidak hanya membawa barang fisik, tetapi juga membawa pesan persaudaraan yang kuat. Selain memberikan alat fisik, para santri juga membantu memberikan edukasi singkat mengenai keamanan penggunaan kompor gas di area pengungsian yang padat untuk menghindari risiko kebakaran. Sinergi ini menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan harus menyentuh aspek fungsionalitas dan keselamatan sekaligus.
