Perkembangan dunia pendidikan Islam di Aceh dan sekitarnya kini memasuki babak baru yang sangat menarik untuk disimak. Salah satu lembaga yang melakukan lompatan besar dalam hal ini adalah Dayah Syaikhuna. Lembaga ini dikenal karena keberaniannya dalam melakukan eksperimentasi pendidikan dengan memadukan metode sorogan yang merupakan warisan luhur pendidikan pesantren dengan teknologi mutakhir berupa tablet digital versi 5.0. Inovasi ini dilakukan untuk memastikan bahwa santri tetap memiliki kedalaman ilmu agama yang otentik namun tetap mampu mengoperasikan alat-alat teknologi terkini guna mendukung efektivitas belajar.
Metode sorogan secara tradisional menuntut santri untuk membaca kitab secara individual di hadapan guru atau kiai. Metode ini dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk memastikan pemahaman santri benar-benar akurat, karena guru dapat langsung mengoreksi kesalahan bacaan, pemahaman tata bahasa Arab (Nahwu-Shorof), hingga substansi makna. Di Dayah Syaikhuna, esensi dari kedekatan antara guru dan murid ini tetap dipertahankan sebagai ruh dari pendidikan. Namun, sarana yang digunakan kini mengalami modernisasi yang sangat signifikan guna mengejar ketertinggalan di bidang literasi data.
Penggunaan perangkat digital dalam proses sorogan ini membawa banyak perubahan positif. Jika dahulu santri harus membawa tumpukan kitab fisik yang berat, kini seluruh referensi kitab kuning dari berbagai disiplin ilmu telah tersimpan rapi di dalam tablet masing-masing santri. Perangkat ini dilengkapi dengan aplikasi khusus yang memungkinkan santri untuk memberikan catatan kaki digital, mencari referensi silang secara instan, hingga mendengarkan rekaman penjelasan guru sebagai bahan pengulangan di asrama. Hal ini membuat proses belajar menjadi jauh lebih fleksibel tanpa mengurangi rasa hormat terhadap teks-teks klasik.
Selain itu, tablet yang digunakan di Dayah Syaikhuna telah dipasangi sistem operasi yang terintegrasi dengan jaringan pendidikan 5.0. Sistem ini memungkinkan adanya pemantauan progres belajar secara real-time. Guru dapat melihat sejauh mana seorang santri telah menyelesaikan bacaan kitab tertentu dan poin-poin mana yang sering menjadi hambatan bagi mereka. Dengan data yang akurat ini, guru dapat memberikan perhatian lebih kepada santri yang membutuhkan bantuan ekstra, sehingga tidak ada lagi santri yang tertinggal dalam proses pemahaman materi yang diajarkan.
