Memahami perbedaan pendapat di kalangan ulama merupakan tanda kedewasaan dalam beragama, terutama bagi para penuntut ilmu di lingkungan dayah. Melalui program Dayah Syaikhuna, pengenalan terhadap khazanah keilmuan Islam diperluas dengan mengadakan sesi diskusi mendalam mengenai fiqih sehari-hari. Kegiatan Bedah Perbandingan Mazhab ini bertujuan agar santri tidak kaku dalam menyikapi perbedaan tata cara ritual yang ada di masyarakat luas. Dalam setiap pertemuan, para asatidz menekankan pentingnya sikap moderat dan saling menghargai pendapat satu sama lain demi menjaga harmoni umat. Selain kajian internal, pesantren juga aktif melakukan pengajian umum dayah guna memberikan edukasi kepada warga mengenai pentingnya Ibadah Praktis yang berlandaskan dalil-dalil kuat namun tetap toleran. Inisiatif di tahun 2026 ini diharapkan dapat meminimalisir potensi gesekan sosial yang dipicu oleh masalah furu’iyah di tengah masyarakat.
Dalam kurikulum perbandingan mazhab, santri diajak untuk menelusuri akar pemikiran dari empat mazhab besar, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Fokus utama adalah pada masalah-masalah ibadah yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti tata cara wudhu, shalat, hingga zakat. Dengan memahami latar belakang pengambilan hukum oleh masing-masing imam, santri akan menyadari bahwa perbedaan tersebut muncul dari ijtihad yang sangat ilmiah dan penuh tanggung jawab, bukan atas dasar keinginan pribadi semata.
Metode pengajaran yang diterapkan di Dayah Syaikhuna bersifat interaktif, di mana santri diperbolehkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terkait isu kontemporer. Misalnya, bagaimana penerapan hukum fikih dalam transaksi digital atau ibadah di kondisi darurat. Diskusi ini melatih logika berpikir santri agar mampu menjawab tantangan zaman dengan solusi yang tetap berpijak pada koridor syariat. Pengetahuan yang luas ini menjadi modal berharga bagi mereka saat nantinya kembali ke daerah masing-masing sebagai rujukan masyarakat.
Pentingnya literasi mazhab juga berkaitan erat dengan upaya menangkal paham-paham radikal yang sering kali menyederhanakan masalah agama secara ekstrem. Dengan menguasai perbandingan mazhab, santri memiliki argumen yang kuat untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang fleksibel dan luas. Mereka dididik untuk menjadi juru damai yang mampu menjelaskan perbedaan secara santun tanpa harus merendahkan pihak lain. Sikap inilah yang menjadi ciri khas dari lulusan Dayah Syaikhuna yang selalu mengutamakan ukhuwah islamiyah.
