Mengatur keuangan bagi seorang remaja yang hidup jauh dari orang tua bukanlah perkara mudah. Seringkali, kiriman uang dari rumah habis sebelum waktunya karena kurangnya perencanaan. Oleh karena itu, para ustadz di sini secara berkala memberikan arahan mengenai cara mengelola keuangan dengan bijak. Santri diajarkan untuk membuat catatan kecil mengenai pengeluaran harian mereka. Hal ini bertujuan agar mereka memiliki kesadaran penuh ke mana setiap rupiah yang mereka miliki dialokasikan, apakah untuk kebutuhan primer seperti sabun dan alat tulis, atau sekadar keinginan sesaat seperti jajan berlebihan.
Fokus utama dari pendidikan ini adalah pembagian uang saku mingguan. Dengan sistem mingguan, santri dilatih untuk berpikir jangka pendek namun terukur. Mereka belajar bahwa jika mereka menghabiskan sebagian besar uang mereka di hari Senin, maka mereka akan mengalami kesulitan di akhir pekan. Pola ini sangat efektif untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab. Di Dayah Syaikhuna, santri yang mampu mengelola uangnya dengan baik seringkali dijadikan teladan bagi teman-temannya. Mereka diajarkan bahwa kemandirian finansial adalah langkah awal menuju kemandirian hidup yang lebih besar setelah lulus nanti.
Selain mencatat pengeluaran, santri juga diajarkan konsep menabung dari sisa uang saku yang ada. Meskipun jumlahnya mungkin tidak seberapa, konsistensi dalam menyisihkan uang memberikan pelajaran tentang disiplin dan kesabaran. Uang yang ditabung tersebut nantinya bisa digunakan untuk membeli kitab tambahan, keperluan mendadak, atau disumbangkan kepada sesama santri yang membutuhkan. Inilah bentuk nyata dari ajarkan santri tentang nilai sosial dari sebuah harta. Mereka belajar bahwa uang bukan hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi juga sarana untuk berbuat kebaikan.
Guru-guru di Dayah Syaikhuna juga sering mengaitkan praktik pengelolaan uang ini dengan dalil-dalil agama mengenai larangan tabzir atau pemborosan. Dalam Islam, seorang muslim dituntut untuk bersifat moderat dalam membelanjakan harta; tidak kikir namun juga tidak berlebih-lebihan. Dengan landasan teologis yang kuat, santri tidak merasa terbebani dengan aturan hemat ini. Mereka justru merasa bahwa dengan hidup hemat, mereka sedang menjalankan ibadah dan menaati perintah Allah SWT.
