Dalam setiap tradisi pendidikan yang kuat, pasti ada sumber-sumber otentik yang menjadi acuan utama. Bagi pesantren, sumber tersebut adalah Al-Qur’an dan Hadis. Keduanya bukan hanya sekadar kitab suci dan catatan; mereka adalah fondasi utama dalam pembentukan karakter dan akhlak santri. Al-Qur’an dan Hadis menjadi kompas moral yang membimbing setiap langkah santri, dari cara mereka berinteraksi dengan sesama hingga cara mereka memandang dunia. Memahami peran keduanya sebagai fondasi utama adalah kunci untuk mengapresiasi keunikan pendidikan pesantren.
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, yang berisi petunjuk hidup dari Allah SWT. Di pesantren, pembelajaran Al-Qur’an tidak hanya sebatas membaca, tetapi juga menghafal dan memahami maknanya. Melalui hafalan, santri melatih daya ingat, kedisiplinan, dan fokus. Sementara itu, pemahaman tafsir membantu mereka menafsirkan ayat-ayat suci dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, ayat-ayat tentang kejujuran, keadilan, dan kasih sayang menjadi pedoman etika yang membentuk kepribadian santri. Sebuah laporan dari Pusat Kajian Islam pada Rabu, 16 Oktober 2024, menemukan bahwa santri yang rutin menghafal Al-Qur’an memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik.
Selain Al-Qur’an, Hadis—perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW—juga menjadi fondasi utama dalam pendidikan pesantren. Hadis berfungsi sebagai penjelas dan pelengkap Al-Qur’an. Melalui Hadis, santri belajar tentang etika sosial, cara beribadah, dan akhlak Rasulullah yang mulia. Mereka belajar bagaimana bersikap sopan santun kepada guru dan orang tua, menghormati sesama, dan berempati kepada yang kurang beruntung. Laporan dari sebuah pesantren di Jawa Timur pada Jumat, 25 Juli 2025, mencatat bahwa musyawarah rutin diadakan untuk membahas Hadis-Hadis yang relevan dengan isu-isu kontemporer, seperti etika di media sosial.
Pentingnya peran Al-Qur’an dan Hadis tidak hanya terbatas pada teori. Santri didorong untuk mengamalkan ajaran-ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kebiasaan sederhana seperti membantu teman, membersihkan lingkungan, hingga berpartisipasi dalam kegiatan sosial, semuanya adalah cerminan dari pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an dan Hadis. Petugas kepolisian yang berinteraksi dengan komunitas santri pada hari Senin, 14 April 2025, mencatat bahwa para santri memiliki pemahaman yang kuat tentang hukum dan etika, yang membantu mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, Al-Qur’an dan Hadis bukan sekadar buku pelajaran, melainkan panduan hidup yang membentuk setiap aspek kepribadian santri.
